BANDA ACEH, tipikorinvestigasinews.id ~ Rencana konser grup musik Hindia di Taman Budaya Banda Aceh pada Rabu, 18 Juni 2025, menuai sorotan tajam dan protes keras dari berbagai kalangan masyarakat setempat. Isu dugaan penggunaan simbol-simbol “satanic” dan lirik lagu yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam menjadi pemicu utama kegaduhan ini.
Salah satu suara paling lantang datang dari Junaidi Yusuf, mantan Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Garda Laskar Aswaja Aceh periode 2020–2025. Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi pada Kamis (12/6/2025), Junaidi menyatakan kekhawatirannya yang mendalam terhadap potensi penyesatan publik, khususnya generasi muda, jika konser tersebut tetap digelar.
Simbol Kontroversial dan Lirik Provokatif
Junaidi Yusuf menjelaskan bahwa hasil penelusuran timnya di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram menemukan indikasi kuat penggunaan simbol-simbol yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam di atas panggung konser Hindia. “Bahkan dalam salah satu lagu terdapat lirik ‘ku doakan kita semua masuk neraka’ yang diikuti oleh para penonton,” ungkap Junaidi.
Ia menegaskan bahwa ekspresi seni semacam itu tidak hanya berpotensi menyesatkan, tetapi juga sangat tidak sejalan dengan kaidah serta norma hukum syariat yang berlaku di Aceh. Sebagai wilayah dengan kekhususan penerapan syariat Islam, Aceh, menurut Junaidi, seharusnya tidak menjadi tempat bagi pertunjukan yang dianggap kontroversial dan melanggar prinsip-prinsip agama.
Desakan Pembatalan Izin dan Ancaman Penolakan Massif
Menyikapi hal ini, Junaidi Yusuf secara tegas mendesak berbagai pihak berwenang untuk meninjau ulang dan membatalkan izin konser Hindia. Ia secara khusus menyerukan kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Satpol PP-Wilayatul Hisbah, pihak kepolisian, serta seluruh instansi perizinan dan pemangku kepentingan lainnya agar tidak memberikan lampu hijau bagi acara tersebut.
Junaidi juga mengingatkan pihak penyelenggara, yang diidentifikasi sebagai panitia mahasiswa dari salah satu universitas di Aceh, untuk mempertimbangkan dengan matang reaksi dan potensi penolakan masif dari masyarakat. “Apabila konser tetap dipaksakan, kita semua khawatir adanya penolakan yang masif dari masyarakat yang terjadi di lapangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Kepada seluruh stakeholder pengambilan kebijakan harus memperhatikan persoalan ini secara terukur sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.”
Profil Hindia dan Kontroversi Sebelumnya
Daniel Baskara Putra, yang dikenal dengan nama panggung Hindia, adalah musisi alternatif dan vokalis grup .Feast. Ia memulai karier solonya pada tahun 2018 dan kerap mengangkat tema sosial dalam karya-karyanya. Baskara juga merupakan pemilik label rekaman independen bernama Sun Eater Coven.
Kontroversi terkait tudingan simbol Illuminati bukanlah hal baru bagi Baskara Putra. Isu serupa pernah mencuat sebelumnya dan direspons olehnya melalui platform X (Twitter). Namun, dengan rencana konsernya di Aceh, tudingan ini kembali menjadi perbincangan hangat dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.[]
{Kh Sakda}







____________________________________________
