Boyolali,jawa tengah, tipikorinvestigasinews.id –Sebanyak 93 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditargetkan bakal terbentuk di Boyolali pada 2025 ini. SPPG nantinya akan membuat menu makan bergizi gratis (MBG) sesuai dengan pemerintah pusat.
Dandim Boyolali, Letkol Inf Dhanu Anggoro Asmoro, saat berada di SPPG Ampel I mengatakan pada 2025 ini diharapkan total ada 93 SPPG beroperasional di Boyolali.
“Yang sudah beroperasional itu tujuh unit, pada Agustus ini akan bertambah lagi lima unit,” kata dia Rabu(20/8/2025)
Sehingga, lanjutnya, total ada 12 unit yang beroperasional. Lalu, SPPG yang sedang dalam pembangunan ada sekitar 53 unit.
Dandim Dhanu berharap target pemenuhan gizi bagi anak-anak Boyolali segera tercapai. Ia mengatakan dapur umum yang telah berjalan antara lain berada di wilayah Ngemplak, Nogosari, Andong, Kemusu, Ampel, dan sebagainya.
“Kami kemarin juga telah menerima kepala SPPG yang telah dilantik, untuk Boyolali ada 154 orang. Kemungkinan besar, karena di Boyolali ada 93 [SPPG], untuk sisanya akan berdinas di wilayah lain atau kabupaten lain,” kata dia.
Ia mengatakan para kepala SPPG telah dilatih oleh polisi dan TNI. Mereka melakukan diksar atau pendidikan dasar di tempat-tempat TNI dan Polri.
“Kami juga telah melakukan geospasial atau pendataan di wilayah. Di sini juga ada koordinator wilayah Boyolali, semoga ke depan kita bisa berkolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan mendukung kesuksesan Badan Gizi Nasional. Agar nanti generasi muda, penerus kita nanti mutu dan kualitasnya terjamin,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Dandim Boyolali meresmikan satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ampel I di Desa Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali,
SPPG Ampel yang dikelola Yayasan Keluarga Harnowo Peduli tersebut beroperasi untuk membuat menu makan bergizi gratis (MBG) di 25 sekolah wilayah Ampel.
Ketua Yayasan Keluarga Harnowo Peduli, Harnowo, mengatakan SPPG yang ia kelola mengirimkan MBG ke 25 sekolah yang berat di Desa Candi, Ngenden, Ngampon, Gondang Slamet, dan Urut Sewu.
“Sementara untuk 10 hari ke depan kami akan mendistribusikan ke 2.680 siswa. Biaya produksi kami sekitar Rp26 juta per hari. Rencana setelah 10 hari sekitar 3.500 siswa,” kata dia ditemui di lokasi.
Pengiriman makanan, lanjut dia, diangkut menggunakan kendaraan mulai pukul 07.30 WIB. Dalam sekali pengiriman, ada sekitar 1.000 porsi MBG yang dibawa lalu kembali lagi untuk menyuplai jatah selanjutnya. Dijadwalkan urut mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Ia mengatakan untuk pekerja SPPG, lanjut dia, memberdayakan warga lingkungan sekitar di wilayah Ampel.
Karyawan total ada 50, termasuk yang di kantor ada kepala dapur, ahli gizi, dan akuntansi,” kata dia.
Bahan-bahan langsung diambil dari para pelaku UMKM hingga petani wilayah Ampel. Sebagai contoh, soal sayur-mayur dan padi berasal dari petani setempat dan sekitarnya seperti Kecamatan Cepogo, Gladagsari, dan sebagainya.
Sementara itu, Kepala SPPG Ampel I, Wahyu Eko Nugroho, mengatakan total ada 46 pekerja di dapur.
“Untuk pekerja kami memajukan SDM daerah lokal, jadi orang-orang wilayah Kecamatan Ampel,” kata dia.
Sebelum terjun, para pekerja di SPPG diberikan pelatihan seperti penjamahan makanan dan sebagainya. Sehingga, mereka dinilai paham untuk bekerja di SPPG.
“Menu hari ini ada ayam goreng, tempe, capcay, jeruk. Dan itu sudah kami dihitung oleh ahli gizi. Perbedaan menu dari anak TK hingga SMA itu enggak ada, hanya beda porsi. Dari TK sampai kelas III SD porsinya lebih kecil,” kata dia.
Penulis Agus chaerudin







____________________________________________
