Sumsel Tipikorinvestigasinews.id Bencana Sumatera di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dipengujung tahun 2025 menyisakan kepedihan dan duka mendalam, tak ayal semesta bergerak mengulurkan tangan dengan membuka donasi untuk memulihkan kehidupan pasca bencana,
Antar warga negara pun bersatu dengan sigap menggalang bantuan untuk meringankan luka warga yang tertimpa bencana, kesigapannya melebihi kecepatan pemerintah bersikap, kendati dikemudiannya baru Pemerintah menyiapkan skema anggaran dan penyalurannya, syukur senyum berangsur kembali terukir diwajah para korban.
Meski tidak akan maksimal, namun teiring doa dari penjuru negeri dipanjatkan untuk membangkitkan semangat pemulihan pasca bencana yang telah terjadi, demikianlah cara rakyat semesta bekerja, rakyat bantu rakyat
Lebih dari itu, sudah saatnya sekarang ini bukan langkah kuratif bencana yang disiapkan, namun preventif bencana yang meski dikedepankan. Insight, selagi pola manusia yang masih memberlakukan alam dengan kesewenangan, tidak menutup kemungkinan bencana serupa akan kembali datang dan bisa jadi ia akan datang ke daerah lain dengan lebih dahsyatnya.
Sebabnya, cerita air bah setinggi rumah, menghanyutkan ribuan batang kayu dan mobil-mobil mewah, menerjang kawasan pemukiman lalu menghantam berbagai bangunan, infastruktur dan fasilitas umum lainnya bukan sekadar peristiwa geologis ekstrem belaka, melainkan cermin dari relasi manusia dengan alam yang rusak akibat eksploitasi, keserakahan, dan kerakusan pengusaha-penguasa.
Bencana yang menghancurkan ekuiblirium, memporak porandakan kehidupan Masyarakat, Dimana BNPB mencatat lebih dari seribu warga yang meninggal dunia dengan rincian korban meninggal dunia terbesar di Kabupaten Agama (Sumatera Barat) sebanyak 184 jiwa, Tapanuli Tengah (Sumatera Utara) sebanyak 159 Jiwa dan Tamiang (Provinsi Aceh) sebanyak 116 jiwa
Berikutnya juga BNPB juga merilis 158 ribu rumah, 1,2 ribu fasilitas umum. 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, dsb, semua rusak, hancur disapu banjir bandang dan tanah longsor
Data ini merupakan iktibar yang harus segera diterjemahkan kedalam aksi nyata, sebelum benar benar hancur alam kita harus tetap terjaga, hutan kita harus tetap dilestarikan.
Kerusakan Alam Sumatera yang Sistemik
Becermin dari potret keadaan di atas, Jutaan gelondongan kayu yang turut terseret dalam bencana bah dan longsor di Sumatera, semestinya sudah cukup dalih untuk menyatakan bahwa ada terjadi praktek perbuatan melawan hukum berupa pembalakan di hutan baik secara legal atau pun illegal yang mengakibatkan terjadinya deforestasi
Deforestasi atau secara sederhana dapat diartikan sebagai kehilangan hutan secara permanen karena disebabkan oleh konversi lahan, seperti peruntukan pembangunan infrastrukur, permukiman, pertanian, pertambangan, dan perkebunan.
Data Kompas menunjukkan selama kurun 1990-2024, terdapat indikasi hilangnya hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat rata-rata 36.305 hektar per tahun. Jika dikonversikan per hari, ditemukan angka sekitar 99,46 hektar hilang per hari.
Angka ini setara dengan hilangnya 139 lapangan sepak bola per hari. Adapun ukuran lapangan sepak bola seluas 7.140 meter persegi menurut standar FIFA. Secara agregat, kehilangan hutan dalam 34 tahun seluas 1,2 juta hektar setara dengan luas dua kali Pulau Bali.
Tahun 1990, data dari laman pemetaan Map Biomas Indonesia menunjukkan, masih ada 9,49 juta hektar hutan. Tahun 2024 berkurang menjadi 8,26 juta hektar. Penyusutan area hutan tertinggi terjadi di Sumut, yakni 500.404 hektar. Adapun penyusutan hutan di Aceh 379.309 hektar dan Sumbar 354.651 hektar.
Penyusutan hutan 1990-2024 menjadi 690.777 hektar lahan sawit, kawasan tambang 2.160 hektar, kawasan perkotaan 9.666 hektar, hutan tanaman industri (HTI) 69.733 hektar. Sisanya, sekitar 1 juta hektar, merupakan fungsi lahan, seperti pertanian, hutan bakau, dan karamba.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit terbesar terjadi di Sumut, yakni 354.865 hektar atau 70 persen dari total alih fungsi lahan menjadi sawit. Disusul Sumbar sebesar 176.330 hektar dan Aceh 159.581 hektar.
Adapun perubahan hutan menjadi kawasan perkotaan terbesar terjadi di Kota Padang Pariaman, yakni hingga 1.119 hektar atau 11,6 persen dari total alih fungsi hutan menjadi area urban di tiga provinsi. Kemudian Kabupaten Deli Serdang 571 hektar dan Pasaman Barat 559 hektar.
Kerusakan hutan di Indonesia secara keseluruhan
Dalam catatan World Resources Institute (WRI), Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai negara dengan kawasan hutan hujan tropis terluas di dunia. Hutan tropis Indonesia memiliki 10 persen hutan tropis dunia yang masih tersisa.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, hutan Indonesia meliputi daratan seluas 125,76 hektare atau setara dengan 62,97 persen dari total luas daratan Indonesia. Data lainnya dari Badan Informasi Geospasial (BIG) meyebutkan luas hutan Indonesia yang terbentang dari Sumatera hingga Papua mencapai 102,53 juta hektar. Dengan ricncian Hutan terluas pertama terletak di Pulau Papua, yakni 33,12 juta ha atau 32,2 persen,
Kedua berada di Kalimantan yakni 31,10 juta ha (30,3 persen), dan disusul ketiga Sumatera 16,01 juta ha (15,6 persen), serta Sulawesi 10,86 juta ha (10,6 persen). Kemudian Maluku 6,37 juta ha (6,2 persen), Jawa 2,77 juta ha (2,7 persen), dan Bali-Nusa Tenggara 2,3 juta ha (2,2 persen).
Hutan tropis menjadi habitat flora dan fauna dengan keanekaragamannya yang luar biasa tinggi. Indonesia memiliki 10 persen dari total spesies tumbuhan dunia, 12 persen mamalia, 16 persen reptil dan amfibi, serta 17 persen burung. Sebagian besar spesies tersebut dapat ditemukan di hutan-hutan Indonesia.
Ancaman dan krisis
Ironi, data disebutkan di atas tinggalah kenangan, bahwa tercatat Indonesia pernah menjadi paru-paru dunia. Anugerah dari Sang Maha Pencipta yang luar biasa besar ini, pada saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hutan Indonesia sedang mengalami ancama dan kritis. Dari data yang ada, selama beberapa dekade terakhir, hutan-hutan Indonesia terus mengalami deforestasi yang signifikan.
Terhitungan sejak tahun tahun 1990 sampai dengan 2025, rata-rata hutan Indonesia mengalami deforestasi dengan nilai rata-rata 2,54 juta Ha/tahun atau setara dengan 6 kali luas lapangan sepakbola per menit dan hutan Sumatera menghilang sebanyak 428 ribu hektar dalam tiap tahunnya
Akibatnya, para mahluk hidup yang tinggal dihabitat itu, flora dan faunanya, tergusur hingga kini tak ayal terjadi konflik antara manusia dengan hewan liar. Selain itu terdampak hilangnya akar pohon dan daun hijaunya hingga hilangjualah paru-paru dunianya.
Dampak yang mengerikan dari itu semua ialah “anomali”, seperti berita banjir air suatu sisi, namun disisi lain terjadi defisit air.
Sebagaiana data BNPB di pulau Jawa pada tahun 2025 terdapat peningkatan sejumlah kabupaten/kota yang mengalami defisit air sekitar 78,4 persen, atau defisit air mecapai 50 milyar kubik per tahunnya.
Mendedah masalah
Indonesia tidak kekurangan data ilmiah, tidak kekurangan tradisi kearifan lokal, dan tidak kekurangan penjelasan teologis tentang apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Namun yang kurang adalah keberanian politik untuk menempatkan keberlanjutan ekologis di atas kepentingan ekonomi sesaat.
Setidaknya ada empat faktor rusaknya alam di Indonesia, terkhusus di Sumatera, yaitu pertama. Legal tetapi tidak diawasi. Maksudnya penebangan kayu di hutan mendapatkan izin dari pemerintah namun aktifitasnya berlebihan dan tanpa ada pengawasan yang ketat dari pemerintahan (kongkalikong)
Berikutnya kedua adalah ilegal. Di mana perorangan atau perusahaan dengan sengaja menghidari pajak dsb. Dan ketiga adalah alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, pertanian, dsb. Serta keempat kebakaran hutan.
Dalam banyak literatur pembalakan kayu di hutan telah berlangsung di Indonesia sejak era 1970an, kemudian berlanjut penebangan skala besar dengan diterbitkannya izin-izin oleh pemerintah sehingga perusahaan-perusahaan bebas menjadikan hutan sebagai area bisnis, dari hutan tanaman industri, pertambangan, dan pengembangan pemukiman atau perkotaan yang dikukan sejak tahun 1990an.
Untuk kepentingan bisnis tersebut dilakukanlah land clearing, tebang habis. Pada akhirnya benar-benar habislah hutan di Indonesia. Area yang dahulunya menjadi hutan berubah atau beralih fungsi menjadi kawasan perkebunan, pertambangan, dan pengembangan perkotaan.
Fakta lenyapnya hutan Indonesia ini belum masuk ke dalam kepentingan penguasa dan pengusaha nakal dalam bentuk penambangan ilegal, jika ditelisik kerusakan yang ditimbulkannya sangat akut sekali.
Seiring dengan perkembangan bisnis di dunia, tentu tuntutan untuk menguasi area hutan menjadi menggila, wajar hutan indonesia khususnya sumatera terancam lenyap dari muka bumi.
Bangun Kesadaran dan Perlawanan
Beberapa langkah taktis telah dilakukan untuk membantu korban yang terdampak bencana, namun langkah strategis dan ideologis juga harus di buka ke ruang publik guna upaya menekan angka deforestasi
Dengan membangun kesadaran bahwa deforestasi adalah ancaman serius dan krisis bagi Umat Semesta, bukan saja banjir bandang dan longsor yang mengacam di suatu daerah, namun secara bersamaan krisis air juga melanda di beberapa daerah lainnya.
Bahkan lebih dari itu, jika kesadaran segera tidak terbangun maka ancaman lebih serius akan segera mengahantui, seperti konflik manusia dengan hewan buas, krisis energi dan krisis makanan.
Sekarang ini masih terdapat waktu tersisa, cukup waktu untuk mengebalikan fungsi hutan seutuhnya. Tidak mudah memang untuk melakukan penyelamatan, butuh kesadaran di awal akan pentingnya melakukan pelindungan hutan Indonesia
Selanjutnya ialah perlawanan, karena beberapa dekade terjadinya deforestasi kesemuanya berkelindan dengan will politiknya para pemimpin. Para pembuat kebijakan di Indonesia masih berelasi erat dengan oligarki yang berkepentingan mengeksploitasi hutan. Walhasil, perjuangan akan lebih susah ketimbang melakukan pengalangan dana bantuan
Namun, dengan modal keyakinan, bersama-sama umat semesta harus segera bergerak mengikis pengaruh dan kekuasaan oligarki. Jika tidak, predictable bencana bencana lain akan datang mengacam umat manusia.
Penulis: Prastiyo Nugraha







____________________________________________
