Aceh Singkil,tipikorinvestigasinews.id – Kabupaten Aceh Singkil kembali jadi sorotan publik. Setelah menerima Medali Serambi Ekraf (Ekonomi Kreatif) Award 2025, keputusan Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, mengutus anak kandungnya, Hidayat Riadi, sebagai penerima penghargaan di Hotel The Pade, Banda Aceh, Jumat (29/8/2025), menuai kritik keras.
Penghargaan prestisius yang diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, sejatinya menjadi ajang mengangkat citra daerah. Namun, absennya bupati karena alasan kendala penerbangan, justru dibarengi dengan keputusan kontroversial yang dianggap melanggar etika birokrasi.
Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Singkil (Himapas), Sapriadi Pohan, menilai langkah tersebut sebagai praktik nepotisme yang terang-terangan dipertontonkan di depan publik.
“Ini jelas nepotisme. Aturan pemerintahan sudah jelas: kalau bupati berhalangan, perwakilan diambil dari pejabat resmi, seperti Wakil Bupati, Sekda, atau pejabat eselon terkait. Bukannya anak kandung yang sama sekali bukan birokrat. Cara seperti ini lebih mirip sistem kerajaan daripada pemerintahan modern,” tegas Sapriadi.
Ia juga menilai, jika memang birokrat tidak bisa hadir, masih ada opsi elegan untuk menunjuk wakil dari unsur legislatif, bukan justru memamerkan politik dinasti dalam bentuk paling kasat mata.
“Kalaulah tidak bisa juga dari birokrat, kan bisa dari legislatif. Tapi kenapa harus anaknya? Ini memperlihatkan arogansi kepemimpinan yang mencampuradukkan kepentingan publik dengan urusan keluarga,” tambahnya.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya mencoreng citra Pemkab Aceh Singkil, tetapi juga mempermalukan daerah di mata provinsi. Alih-alih memperkuat wibawa, keputusan itu justru menunjukkan praktik kekuasaan yang semakin jauh dari semangat reformasi birokrasi, {syah}







____________________________________________
